Tren Mahasiswa Indonesia di Jerman Cenderung Alami Penurunan Nilai Akademis, Berpotensi Alami Kegagalan

by -4 views
Dok. Istimewa

Tampak pada grafis di bawah kondisi perbandingan dari 2000 mahasiswa yang sedang menempuh jenjang S1 dimana tahun 2020 tercatat 876 pelajar yang telah tinggal di Jerman lebih dari 3-4 tahun atau teregistrasi di semester atas (Hochschulsemester) masih bisa melanjutkan studi sesuai rencana perkuliahan yang diberikan program studi. Di sisi lain 1201 pelajar harus turun tingkat ke semester di bawah (Fachsemester). Setiap tahun trennya selalu berulang dengan jumlah yang besar sulit untuk kembali ke semester sesuai schedule yang ditetapkan kampus.

Fakta ini menegaskan jika pelajar Indonesia yang telah lama di Jerman masih banyak yang tercecer mengambil kuliah di semester pertama. Ada kondisi dimana seorang mahasiswa masuk dalam keterpaksaan berpindah jurusan bahkan pindah kampus dari Uni yang “lebih sulit” ke Hochschule atau Fachhochschule yang “lebih banyak praktik” tapi lebih bisa diikuti.

Kepindahan ini bukan tanpa sebab, tak ada lagi kesempatan mengulang mata kuliah setelah gagal ujian hingga batas maksimal 3 kali pada satu mata kuliah wajib (Dritte versucht nicht bestanden) adalah penyebab paling banyak.

Kondisi Dritte Versucht menakutkan bagi semua studen dimana mahasiswa terancam drop-out dari jurusan yang tengah diambil tetapi masih memungkinkan migrasi ke jurusan lain di kampus yang sama. Faktor lain yang menyebabkan kegagalan pelajar mengikuti kerangka studi yang ditetapkan kampus bisa jadi keasikan bekerja paruh waktu dengan gaji ribuan euro bisa membuat seorang pelajar terlenan untuk kembali fokus di kampus. Faktor lain yang sifatnya sangat personal menyita waktu studi juga beberapa kali terdengar di lingkaran mahasiswa.

Sejak pendataan rutin dilakukan oleh KBRI Berlin, kondisi mahasiswa Indonesia di Jerman yang tercecer dan terbengkalai tidak menunjukan pengurangan signifikan. Setiap semester selama lima tahun terakhir angkanya selalu di atas 1200 orang turun angkatan mengambil mata kuliah di semester bawah. Ini warning serius untuk orang tua yang sering memaksakan anak berkuliah dengan referensi faktual yang minim.

Bekal pintar secara akademis saja tidak cukup. Kombinasi kegigihan, motivasi, strategi dan determinasi tinggi adalah senjata ampuh menyelesaikan tahap sarjana maupun pasca sarjana di Jerman.

Sumber: Profil Pelajar Indonesia di Jerman Tahun 2020 (KBRI Berlin)