Hari Santri Disaat Pandemi

oleh
Persiapkan- Para Santriwati Tengah Mempersiapkan Diri Untuk Mengikuti Lomba Musabaqoh Qiro'atul Kutub (eko)

Sejak ditetapkan oleh pemerintah tahun 2015, melalui keputusan presiden nomor 22 tahun 2015, santri memiliki hari istimewa yang diperingati setiap tahunnya. Kini, disaat pandemi, saat Corona menjadi momok dunia, para santri tetap memperingati hari mereka dengan beragam kegiatan yang disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Menghapal- Rendi dan Kawannya Sedang Menghapal Kitab Kuning pada kegiatan Peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Subang (eko)

Seperti yang dilaksanakan oleh ratusan santri di Kabupaten Subang, Selasa (20/10/2020) di beberapa tempat, para santri melaksanakan peringatan dengan cukup sederhana, diantaranya Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK, red) yang dilaksanakan di gedung Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT,red) juga lomba dakwah bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan bahasa Arab, yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang.

“Jumlah peserta yang mengikuti hari santri nasional di Kabupaten Subang, lebih dari 200 orang, mulai dari MQK, lomba dakwah, lomba film dokumenter serta lomba kaligrafi. Walaupun kegiatan yang dilaksanakan hari ini secara tatap muka, namun tetap mengutamakan protokol kesehatan,,”ujar kasie PD Pontren, Mohamad Sopiadi, saat melaksanakan peninjauan ke gedung FKDT Subang, Selasa (20/10/2020).

Menurut Mohamad, sebelum kegiatan yang dilaksanakan secara luring, tanggal 16 Oktober 2020 sudah dilaunching dengan pelaksanaan istighosah. Bahkan, tambah Mohamad, selain dari kegiatan yang dilaksanakan Selasa (20/10/2020), rangkaian kegiatan akan terus dilakukan sampai setelah puncak peringatan hari santri Nasional.

“Selain kegiatan yang dilaksanakan secara tatap muka, ada juga kegiatan yang dilakukan secara virtual, diantaranya lomba video dokumenter, tentang kebersihan pesantren dalam rangka pencegahan Covid 19, kemudian standup comedy ini juga dilaksanakan dengan cara pengiriman dokumen,”ujar Mohamad.

Setelah puncak peringatan hari santri nasional, tambah Mohamad, kegiatan tidak langsung selesai, karena masih akan dilanjut dengan penilaian pondok pesantren sehat.

“Kemudian, nanti akan dilaksanakan lomba pesantren sehat, ini, karena jumlah pesantren di Kabupaten Subang itu jumlahnya ratusan, sehingga memerlukan waktu, dalam rangka objektivitas penilaian dan asas keadilan, sehingga pesantren yang dinilai, pesantren yang sehat,”jelas Mohamad.   

Sekitar pukul 08.00 Wib, gedung FKDT di jalan Bagus Yadin Kelurahan Cigadung Subang, didatangi oleh puluhan kendaraan roda empat, satu persatu para santriwan santriwati turun dari kendaraan tersebut, hingga memadati bangunan yang berdiri di lahan seluas 420 meter persegi.

Ratusan santriwan santriwati bermasker tampak menenteng kitab kuning. Salah seorang diantaranya, Sefa Auliawati, santriwati dari pondok pesantren At- Tawazun Kalijati, dia akan mengikuti lomba Qiro’atul Kutub Safinah.

Saat pimpinan pondok pesantren mendaftarkan ulang mereka, para santri duduk disekitaran gedung FKDT. Kesederhanaan sangat nampak pada diri para santri, mereka tidak berebut untuk duduk di karpet yang disediakan oleh Ketua FKDT Jawa Barat, Atep Abdul Gopar dan rekan-rekan pengurus FKDT Subang.

“Karena lokasi kegiatannya dipindah mendadak, sehingga, Kami hanya mampu menyediakan seadanya, yang terpenting protokol kesehatan tetap dilaksanakan, para santriwan santriwati tetap menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,”ujar Atep.

Satu persatu santri dipanggil oleh panitia untuk masuk ke ruangan. Santri yang belum dipanggil, membuka kitab kuning yang mereka bawa, sekadar membaca, atau juga diantara mereka ada yang menghapal hasil pengajaran para kiai di pondok pesantren mereka.

Rendi Juniarwan, santri dari Pondok pesantren Al- Multazam Kasomalang, mengaku siap untuk mengikuti lomba Qiro’atul Kutub Safinah, dia merupakan salah satu utusan dari belasan santri yang dikirimkan oleh Kiai Adam Firdaus. “Insya Allah, saya siap,”ujarnya.

Ketika saya masih berbincang dengan Rendi, tidak lama berselang, rekan satu pesantrennya, baru kembali dari mengikuti lomba. Dede Rendi nama santri tersebut, dia tampak gugup, tangannya yang putih, bertambah putih dan keluar keringat dari telapak tangannya.

Menurut Dede, yang diuji oleh para juri adalah yang dia pelajari dari kiai dan ustadz di pesantrennya. “Benten sima na, dilebet mah (didalam, beda Auranya, red),”ujar Dede, yang mengikuti Qiro’atul Kutub Imriti.

Pelaksanaan Peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Subang, menurut Ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten Subang, Kiai Maman S. Jamaludin, merupakan salah satu tonggak kebangkitan santri, khususnya di Kabupaten Subang.

“Walaupun dikondisi pandemi Covid 19, pelaksanaan peringatan hari santri nasional di Kabupaten Subang, merupakan kegiatan yang spektakuler, antusias pesantren sangat besar sekali, hal ini terbukti dari jumlah pesantren yang mengirimkan santrinya, lebih dari 100 pesantren,”ujar Kiai Maman.

Jumlah pesantren yang mendaftar, tambah Kiai Maman, jika dibandingkan dengan jumlah pondok pesantren yang ada, sebanyak 549 pesantren, baru seperlima nya, namun, menurut Kiai Maman hal ini sudah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

“Karena, untuk pertamakalinya, kita mengadakan lomba kaligrafi komik dengan tulisan arab pegon, dan ini akan kami usulkan untuk masuk di MTQ tingkat Propinsi Jawa Barat, juga MTQ tingkat nasional,” ujar Kiai Maman.

Dikutip dari laman wikipedia, Abjad Pegon adalah abjad Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, dan Sunda. Kata pegon berasal dari kata berbahasa Jawa pégo yang berarti ‘menyimpang’. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

“Di komik tersebut, penulisan dialognya, menggunakan hurup Arab tapi hurup Arab pegon, sangat menarik inovasi yang dilakukan oleh para santri,”jelas Kiai Maman saat berbincang di kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang.

Di kantor tersebut juga dilaksanakan beberapa mata lomba, yakni lomba pidato dengan menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Arab. Di Aula Kementerian Agama Kabupaten Subang, dilaksanakan lomba pidato berbahasa Indonesia.

Salah seorang santri tampak sangat piawai dalam membawakan materi dakwahnya. Pun demikian halnya dengan lomba pidato berbahasa Inggris dan Arab yang dilaksanakan di masjid Kementerian Agama Kabupaten Subang, diksi yang diucapkan oleh para santriwati tidak ada cela.

“Ini kebanggan tersendiri, karena kedepan, kita tidak akan kekurangan para pendakwah, tidak akan kehilangan para penyi’ar agama Islam. Anda dengar sendiri, begitu fasehnya para santriwan dan santriwati dalam membacakan kalam Qur’an, dan mampu menjelaskan dengan sangat detail hadistnya,”jelas Kiai Maman.

Penilaian terhadap ratusan santri masih berlangsung, baik yang berada di kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang, maupun yang berada di sekretarist FKDT. Para santri yang belum mengikuti lomba, masih tetap berada ditempatnya masing-masing, sambil membuka dan menghafal kitab kuning yang mereka bawa.

Peringatan hari santri nasional, seperti diungkapkan oleh Kiai Maman, sederhana namun spektakuler, sederhana secara pelaksanaan, namun spektakuler dari sisi inovasi yang dilakukan oleh para santri di Kabupaten Subang.

Penulis: @agusekoms

Editor : Agus Eko MS