Nasib Anies Baswedan Terancam, Berpotensi Kehilangan Dukungan Partai

by -13 views
Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampak hadir dalam perayaan hari ulang tahun ke-12 Partai Gerindra di DPP Gerindra, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020). (Suara.com/Tyo

JPOL – Nasib Anies Baswedan di ujung tanduk, jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta kian terancam. Apalagi, baru-baru ini Anies dipanggil Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran protokol kesehatan dalam agenda Habib Rizieq, Sabtu, 14 November 2020.

Baru-baru ini Mendagri Tito Karnavian telah menandatangani instruksi Nomor 6 Tahun 2020 pada Rabu, 18 November 2020 terkait Penegakan Protokol Kesehatan untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Instruksi ini diterbitkan agar hal-hal yang berkaitan dengan kerumuman yang mengundang massa bisa dikendalikan.

“Saya sampaikan kepada gubernur, bupati, dan wali kota untuk mengindahkan instruksi ini karena ada risiko menurut UU. Kalau UU dilanggar dapat dilakukan pemberhentian,” kata Tito Karnavian dalam rapat di Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 18 November 2020.

Bahkan setelah memenuhi panggilan Polda Metro Jaya pada Selasa, 17 Nivember 2020 pun, tidak ada satu pun dari partai pengusungnya yang menunjukkan pembelaan. Hal itu menggambarkan bahwa nasib Anies Baswedan kian di ujung tanduk.

Partai Gerindra, PKS, Partai Perindo, dan Partai Idama juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pemanggilan Anies oleh Polda Metro Jaya.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opininon, Dedi Kurnia Syah mengatakan bahwa walaupun menjadi partai pengusung Anies, Anies bukanlah kader dari partai Gerindra. Maka tidak mengejutkan apabila tidak membela Anies.

“Gerindra sebagai Parpol, meskipun pengusung Anies, tetapi Anies bukan kadernya. Untuk itu, tidak mengejutkan jika hambar dalam pembelaan. Dalam situasi semacam ini, Anies harus bersiap jika posisinya terancam, dan itulah sisi buruk politik kita. Minimnya loyalitas politik,” ujar Dedi seperti dilansir dari RRI pada 19 November 2020.

Lebih lanjut, Dedi mengatakan bahwa Anies dapat melakukan dua hal, diantaranya adalah dengan sikap mandiri tanpa dukungan dari partai atau menghadapi semua proses yang dituduhkannya.

“Dua hal bisa ia lakukan, mengikuti arus politik yang sedang dialami, tanpa konfrontasi. Atau menunjukkan sikap mandiri dan menghadapi semua proses yang dituduhkan, tentu dengan resiko akan semakin menguatkan tekanan,” lanjutnya.

Namun, Dedi mengatakan bahwa jika penegak hukum punya dalih untuk menjerat Anies, maka Anies tak akan bisa berkutik lagi.

Tetapi tidak ada pilihan lain, selama penegak hukum punya dalih untuk menjerat Anies, maka tidak banyak yang bisa dilakukan Anies,” ucapnya.