Mengais Rejeki Dimusim Pandemi

oleh
Test Suhu- Wisatawan yang masuk ke lokasi wisata Curug Ciangin di test suhu tubuh (roby ciangin)

Prokes Ketat Harus Tetap Dilaksanakan

Pak Nana, begitulah Warga Desa Cibeusi Kecamatan Ciater, memanggil pria yang diperkirakan berusia 52 tahun. Dia merupakan satu diantara puluhan pengelola wisata alam yang ada di Kabupaten Subang.

Di musim pandemi covid-19 ini, dia sangat merasakan kesulitan yang luar biasa. Tempat wisata yang dikelolanya sejak tahun 2015 sempat ditutup sekitar 3 bulan, karena kebijakan pemerintah Propinsi Jawa Barat yang menutup seluruh tempat wisata di Jawa Barat.

Kamar Steril- Pengelola Wisata Alam Curug Ciangin Membangun Kamar Steril Untuk Melaksanakan Protokol Kesehatan (Roby Ciangin)

“Kalau saat itu kami tidak mengikuti aturan penutupan sementara, akan lebih fatal akibatnya,”ujar Nana, mengenang.

Menurut Nana, walau dengan tertatih-tatih, juga harus mengikuti protokol kesehatan, pihaknya kembali membuka salah satu destinasi wisata di Kabupaten Subang, yang dikenal dengan nama Curug Ciangin, karena air yang berjatuhan dari atas tebing, membawa hembusan angin kencang, hingga membuat udara sekitar curug menjadi lebih sejuk.

“Kami harus menjalankan protocol kesehatan, kepentingannya, bukan saja untuk pengunjung, namun juga untuk seluruh masyarakat yang menggantungkan nasib disini,”tambah Nana.

Ya, untuk masuk ke wisata alam yang terletak di Kampung Neglasari, tepatnya di desa Cibeusi, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, wisatawan, bukan saja wajib menggunakan masker, namun juga dicek suhu tubuh menggunakan thermo gun, dan wajib mencuci tangan menggunakan sabun.

“Disetiap warung, atau tempat singgah, kami sediakan tempat cuci tangan, lengkap dengan sabun cairnya,”jelas Nana.

Sejak ditetapkan menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Subang, Wisata curug Ciangin kini banyak menarik wisatawan, bukan saja yang berasal dari Kabupaten Subang, namun kini daerah yang dikenal keindahan alam serta keunikannya tersebut, banyak didatangi dari luar Kabupaten Subang.

“Ini juga yang menjadi perhatian kami disini, jangan sampai pengunjung dari luar, memiliki potensi menyebarkan penyakit covid-19 disini. Kalau berdasarkan pantauan suhu tubuh, suhu tubuhnya tinggi, wisatawan tersebut dipersilahkan untuk memisahkan diri dahulu, atau kami sarankan untuk kembali,”ujar Nana.

Gerimis sempat menghentikan obrolan kami, yang mencari tempat perlindungan. Kami kemudian melanjutkan obrolan di sebuah warung yang berada tidak jauh dari curug yang memiliki ketinggian 9 meter, dan kedalaman kolam 5 meter.

“Untuk menjalankan protocol kesehatan, kami terus melakukan koordinasi dengan aparatur pemerintahan desa, Babinsa serta Babinkamtibmas Desa Cibeusi, karena kami tidak mau menjadi salah satu penyumbang Cluster baru,”tegas Nana.

Tubuh pak Nana tidak terlalu tinggi, bahkan bisa disebut memiliki perawakan kecil, namun, seluruh “penghuni” wisata Curug Ciangin, takjim kepadanya. Seluruh aktivitas yang berkenaan dengan lokasi wisata yang sudah masuk top 10 Desa wisata di Provinsi Jawa Barat, harus seijin dirinya.

“Bukan ijin, harus koordinasi saja, agar semuanya dapat terkendali sebagaimana harusnya,”ujarnya merendah.

Menurut Nana, dipergantian tahun baru, dirinya dibuat pusing oleh keadaan. Disatu sisi, banyak wisatawan yang ingin bermalam tahun baruan di Curug Ciangin, disisi lain, pemerintah melarang adanya kerumunan.

“Kalau saya ikuti keinginan wisatawan, saya khawatir adanya cluster baru, sementara kalau tidak dilayani, saya khawatir, hal ini akan berdampak kedepannya bagi tempat wisata ini,”ujarnya berkeluh kesah.

Ya, pandemic covid-19, membuat pengelola wisata khawatir untuk mengambil keputusan. Protocol kesehatan yang diterapkan sangat ketat pun, pada satu ketika, bisa diabaikan oleh wisatawan.

“Karenanya, kami para pengelola disini, termasuk seluruh pemilik warung, terus mengkampanyekan protocol kesehatan. Biar disebut cerewet tidak masalah, hal itu kan bukan untuk kami saja, namun juga bagi kesehatan mereka juga,”tegas Nana.

Awan hitam yang berarak di Langit Curug Ciangin sedari pukul 14.30 Wib, mulai lenyap, gerimis yang tadi turun, sudah mulai reda. Saya pun berpamitan, meninggalkan tempat yang memiliki keindahan luar biasa.

Suara gemuruh air yang jatuh dari curug, sayup-sayup terdengar dari kejauhan, puluhan orang bermasker, lalu-lalang disekitar tempat wisata yang berada di kaki bukit. Hamparan pesawahan menghiasi kiri kanan jalan, sebuah karya agung, dari sang maha pencipta. (***)

Penulis & Editor : Agus Eko MS