Fakta Utang Pemerintah Indonesia 6.000 Triliun

by
Ilustrasi Uang

JPOL – Kabar tebaru terkait utang pemerintah Indonesia bertambah lagi. Kini angkanya sudah tembus hingga 6.000 triliun atau tepatnya mencapai Rp 6.074,56 triliun hingga Desember 2020, ada kenaikan sebesar Rp 136,92 triliun dari posisi Rp 5.910,64 triliun di November tahun lalu.

Berikut fakta-fakta utang pemerintah Indonesia dikutip data APBN KiTa Edisi 2020, Selasa (19/1/2021):

  1. Sumber Utang

Utang pemerintah berasal dari 2 dari, yakni surat berharga negara Rp 5.221,65 triliun dan pinjaman Rp 852,91 triliun.

Jika dirincikan kembali, surat berharga negara dari domestik terdiri dari surat utang negara Rp 3.303,78 dan surat berharga syariah negara Rp 721,84 triliun.

Lalu, ada valas di surat utang negara Rp 946,37 triliun dan surat berharga syariah negara Rp 249,66 triliun.

Sementara porsi pinjaman, rinciannya bilateral Rp 333,76, multilateral Rp 464,21 triliun, dan commercial banks Rp 42,97 triliun.

  1. Bertambah Rp 1.257 T

Kementerian Keuangan turut mencatat utang pemerintah bertambah Rp 1.257 triliun selama 2020. Dibandingkan posisi akhir Januari yang sebesar Rp 4.817,5 triliun, utang pemerintah naik Rp 1.257 triliun.

Total utang pemerintah yang mencapai Rp 6.074,56 triliun ini jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi peningkatan Rp 136,92 triliun dari posisi Rp 5.910,64 triliun. Dengan begitu, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 38,68%.

Tapi, Kenapa Negara Harus Berutang?

Suatu pemerintah negara bisa menjalankan tiga pilihan anggaran fiskal, yaitu surplus, defisit, dan imbang. Ketiga pilihan ini berbeda dalam hal apakah pemerintah memiliki pendapatan yang lebih, kurang atau sama dari belanja pemerintah.

Dalam hal defisit fiskal, pendapatan yang diperoleh oleh pemerintah dinilai lebih kecil daripada pengeluarannya. Untuk itu, sumber pendapatan utama pemerintah adalah dari pajak.

Oleh karena itu, dalam beberapa buku, para pengarang buku banyak yang menyebutkan bahwa defisit akan terjadi apabila pendapatan pajak yang diraih pemerintah lebih rendah daripada pengeluaran pemerintah. Jadi, secara konsep, keduanya memang sama saja.

Dari Mana Pemerintah Bisa Menutup Defisit?

Karena pendapatan yang diraih oleh pemerintah tidak bisa mencukupi keperluannya, maka pilihan yang masih bisa diambil adalah dengan berhutang. Hal tersebut mungkin sama dengan anggaran yang Anda lakukan. Saat Anda ingin memiliki suatu barang namun pendapatan Anda tidak cukup, maka Anda mungkin akan mengambil pinjaman ke Bank.

Jadi, sebenarnya defisit anggaran pemerintah akan lebih difokuskan untuk meningkatkan ekonomi negara. Setiap jali pemerintah memerlukan banyak pendanaan guna membiayai inisiatif perkembangannya, maka negara hanya bisa melakukan dua cara saja, yaitu meningkatkan pajak atau berutang.

Karena meningkatkan pajak bisa membebani masyarakat dan membutuhkan suatu proses ratifikasi yang cukup panjang dan rumit, maka pilihan pemerintah akan cenderung jatuh pada penerbitan utang dalam wujud penerbitan surat utang negara.

Jadi, utang pemerintah yang dilakukan saat ini adalah bentuk akumulasi dari nilai defisit anggaran yang terjadi selama tahun-tahun sebelumnya saja.