Terpantau di Satelit, Ternyata China Bangun Pangkalan Militer di Laut Natuna

by
Pangkalan Militer China di Natuna
Citra Stelit yang menggambarkan pangkalan militer china di Natuna

JPOL – Ketegangan di Laut Natuna Utara antara China dan negara-negara yang berada di perairan tersebut semakin meningkat.

Bahkan China tak ragu memperlihatkan keagresifannya dalam upaya merebut wilayah perairan Laut Natuna Utara yang selama ini disengketakan.

Selama ini China mengklaim kepemilikan perairan Laut Natuna Utara yang kaya akan sumber daya alamnya.

Namun klaim China atas Laut Natuna Utara dipatahkan oleh PBB berdasarkan undang-undang laut internasional atau United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS).

China yang tak mundur sedikit pun sedikit demi sedikit mulai melanggar batas yang ditetapkan.

Angkatan militer negeri tirai bambu tersebut bahkan mengerahkan pasukannya untuk selalu berlatih demi berjaga-jaga jika suatu saat terjadi peperangan.

Belum lagi China baru-baru ini mengesahkan undang-undang yang memperbolehkan penjaga laut mengambil aksi maupun menembaki kapal asing yang berani menjamah wilayahnya.

Selain itu, China disebut telah memperbanyak peralatan canggih untuk mendukung kekuatan militer mereka.

Baru-baru ini citra satelit menangkap pergerakan China yang begitu agresif. China kepergok membangun pangkalan militer besar-besaran di Laut Natuna Utara.

Sebagaimana diberitakan laman News Australia, citra satelit menangkap aktivitas mengkhawatirkan China, saat membangun pangkalan militer di pulau-pulau buatan yang kontroversial dan berada di perairan Laut Natuna Utara.

Berdasarkan laporan dari perusahaan perangkat lunak geospasial Simularity, mereka menangkap tanda-tanda pembangunan infrastruktur seperti radar, antena, dan berbagai pendukung pangkalan militer di Mischief Reef.

Dilihat dari atas, pangkalan militer tersebut terlihat seperti terumbu karang berbentuk cincin.

Pangkalan militer tersebut terletak 250 kilometer dari Filipina, dan daratan tersebut telah dikendalikan China sejak 1995.

Gambar dari citra satelit menunjukkan adanya konstruksi di tujuh area antara Mei 2020 hingga Februari 2021.

Sebuah gambar yang tertanggal 7 Mei 2020 memperlihatkan dengan jelas plot ruang kosong, yang saat ini ditempati oleh struktur silinder selebar 16 meter yang diklaim Simularity sebagai struktur pemasangan antena.

Pada gambar lain juga menunjukkan adanya struktur beton dengan kubah bulat, yang tak lain adalah penutup cuaca untuk melindungi antena dan radar.

Perbandingan lokasi pada 2020 (kiri) dan Februari 2021 (kanan).

Simularity menyatakan bahwa kubah yang nampak tersebut adalah struktur radar tetap.

Dr Jay Batongbacal, Direktur Institute for Maritime Affairs Law of the Sea dari Universitas Filipina, mengatakan infrastruktur baru menunjukkan bahwa China sedang menggali di Laut Natuna Utara.

“Mereka pada dasarnya menambahkan peralatan lensa survei. Tampaknya radar sudah ada banyak di terumbu karang,” ujar Jay.

“Penambahan radar baru tampaknya menunjukkan bahwa China benar-benar memperluas kemampuan pulau buayan ini,” katanya menambahkan.

Tentu peristiwa seperti ini bukan kali pertama, China memang kerap memicu ketegangan di Mischief Reef.

Pada 2016 lalu, Pengadilan Permanen Arbitrase di Den Haag memutuskan bahwa Mischief Reef berada di zona ekonomi eksklusif Filipina.