Ciamis Darurat Zona Merah Covid-19, Sekolah Tetap Lakukan Tatap Muka Parsial

oleh
Wabah Corona
Wabah virus corona (coronavirus) Covid-19. (Shutterstock)

JPOL – Pemerintah Kabupaten Ciamis tetap mempertahankan pelaksanaan sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM), meskipun berstatus zona merah.

PTM atau sekolah tatap muka di Kabupaten Ciamis dilaksanakan secara parsial di wilayah kuning dan hijau.

“Pembelajaran secara tatap muka tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja dilaksanakan secara parsial, PTM hanya untuk wilayah yang aman, zona kuning dan hijau,” kata Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, usai memimpin Rapat Koordinasi Penanggulanan Covid-19 di Setda Ciamis, Rabu 9 Juni 2021.

Dia mengatakan pembagian zona tetap mengacu pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Dalam arti, zonasi sekolah tatap muka berdasar pada kondisi lingkungan sekolah berada.

Dengan demikian, sekolah masih diperkenankan menggelar PTM atau sekolah tatap muka jika berada di zona kuning dan hijau.

“Sekolah yang masuk zona oranye dan merah tidak boleh melaksanakan PTM, kegiatan belajar mengajar secara daring. Penerapan protokol kesehatan juga lebih diperketat,” jelasnya.

Herdiat mengatakan Ciamis masuk zona merah Covid-19 akibat angka kasus kematian pasien corona yang tinggi, mencapai 3,71 persen.

Banyak hal yang mempengaruhi tingginya angka kematian pasien corona, seperti pasien lansia terkonfirmasi positif corona ternyata memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

“Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah parah. Kemudian warga KTP Ciamis meninggal di perantauan, kemudian dimakamkan di Ciamis,” ujarnya.

Faktor lain yang menyebabkan Ciamis masuk zona merah Covid-19 berkenaan dengan kurangnya alat pemeriksaan tes swab PCR maupun rapid tes swab Antigen.

Kondisi tersebut menghambat petugas yang melakukan pelacakan pasien corona atau tracing.

Selama dua minggu ke belakang, lanjutnya, pemeriksaan sangat sedikit karena alat tes Covid-19 ditarik BNPB. Artinya, pelaksanaan tracing pasien corona di Ciamis menjadi sangat terbatas.

“Untuk penghitungan, secara akumulasi jumlah yang meninggal dibagi dengan yang melaksanakan tes. Karena yang menjalani tes sedikit, sehingga persentasi kematiannya menjadi tinggi. Kami sudah mengajukan bantuan alat kepada pemerintah pusat,” kata Herdiat.

Menghadapi zona merah Covid-19 di Kabupaten Ciamis, dia minta masyarakat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, juga memperketat pelaksanaan protokol kesehatan, di pasar tradisional maupun modern, tempat umum dan lainnya.

“Jangan abai, saya minta agar tidak bosan selalu saling mengingatkan soal protokol kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis Bayu Yudiawan mengungkapkan, selama beberapa minggu terakhir ini hanya sedikit melakukan tracing. Hal itu disebabkan keterbatasan peralatan.

“Tracing sedikit, berpengaruh terhadap tingginya persentase angka kematian di Ciamis,” katanya.

Dia juga mengungkapkan, tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit di Ciamis kecil, jika dibandingkan beberapa wilayah lain di Jawa Barat. Meskipun demikian, lanjutnya, Dinkes Ciamis tetap berupaya memperkecil BOR.

“Kami akan lebih meningkatkan petugas yang melakukan deteksi, tracer, sehingga nantinya tidak ada yang lolos. Termasuk lebih meningkatkan pelayanan masyarakat,” tuturnya.